Latest News

Showing posts with label Seputar Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Seputar Kebudayaan. Show all posts

Friday, 16 February 2018

Pengertian Angpau / Angpao

Pengertian Angpau / Angpao. Ketika Hari raya imlek tiba maka kata yang paling sering didengar adalah Angpau. Apa Yang dimaksud dengan Angpau. Pada masa Dinasti Qin di China, orang-orang tua biasa mengikat uang koin dengan benang merah. Uang itu disebut yasu� qi�n yang berarti "uang pengusir roh jahat", dipercaya dapat melindungi orang-orang tua dari penyakit dan kematian. Yasu� qi�n kemudian digantikan amplop merah semenjak bangsa China menemukan metode printing. Uang tersebut selanjutnya disebut yasu� qi�n, aksara sui yang digunakan bukan berarti "roh jahat" melainkan "usia tua".

Pengertian Angpau / Angpao

Definisi Angpau

Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa dan Asia, angpau adalah merupakan bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya. Bahasa Hokkien menyebutnya angpau, Kantonis sebagai lai see, Vietnam sebagai l� x�, dan Korea sebagai sae bae don.

Secara Umum Pengertian Angpao (Hanzi) adalah amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek. Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa yang nasib baik bagi penerimanya.

Istilah angpao dalam kamus berbahasa Mandarin didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya; sogokan". Hong memiliki arti marga Hong; merah, populer, revolusioner, bonus". Bao memiliki arti "menutupi, membungkus, memegang, memasukkan, mengurusi, kontrak, kemasan, pembungkus, kontainer, tas, menerima, bungkusan".

Kegunaan dan kebiasaan

Angpau umumnya muncul pada saat ada pertemuan masyarakat atau keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru, hari raya seperti tahun baru Imlek, memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religius atau tempat ibadah, dan sebagainya. Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi angpau oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. Masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan angpau untuk membayar guru dan dokter.

Angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Warna merah angpau melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif. Oleh sebab itu, angpau tidak diberikan sebagai ungkapan berbelasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut.

Pemberi dan Penerima

Para pemberi angpau biasanya adalah pasangan yang sudah menikah, sementara penerimanya adalah orang yang belum menikah atau anak kecil.

Beberapa orang memiliki kebiasaan untuk memberi uang dalam bentuk koin atau berupa lembaran dalam jumlah banyak supaya penerima tidak bisa memperkirakan jumlah uang yang ia terima. Masyarakat biasanya juga melarang anak-anak untuk membuka angpau pada saat masih berkumpul bersama-sama supaya tidak terjadi kecanggungan di antara para pemberi angpau (misalnya karena jumlah uang yang diberikan berbeda).

Warga muslim di Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura telah mengadopsi kebudayaan China sebagai bagian dari Idul Fitri atau pernikahan. Namun, mereka tidak menggunakan angpau berwarna merah, melainkan amplop dengan desain menyerupai angpau tetapi berwarna hijau. Warna hijau merupakan warna tradisional yang digunakan oleh Islam dan adaptasi tersebut didasarkan pada tradisi sadaqah. Dalam Qur'an, sadaqah bersifat lebih tidak formal dibandingkan zakat, dan dalam berbagai kebudayaan lebih mendekati pemberian di antara teman dibandingkan beramal yang lebih ditetapkan untuk orang yang membutuhkan.

Sumber
https://id.wikipedia.org/wiki/Angpau

Thursday, 15 February 2018

Pengertian Barongsai serta Ritual Dan Tahapannya

Pengertian Barongsai serta Ritual Dan Tahapannya. Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang.

Pengertian Barongsai serta Ritual Dan Tahapannya

Definisi Barongsai

Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.

Tarian Barongsai atau yang biasanya disebut Wu Shi pada tradisi Cap Go Me tarian ini biasanya dimainkan secara bersama dengan tarian Liong, yang dikenal dengan istilah. Nong Shi U dan Nong Long U. Ada dua macam jenis macam tarian barongsai yang satu lebih dikenal sebagai Singa Utara yang penampilannya lebih natural sebab tanpa tanduk, Sedangkan Singa Selatan memiliki tanduk dan sisik jadi mirip dengan binatang Qilin.

Di Indonesia barongsai dikenal memiliki 3 jenis yaitu Shi Zi, Chan dan Qi Lin. Chan adalah barongsai selatan atau katak (bangkong ?). Shi Zi barongsai utara. Qi Lin adalah binatang kilin atau kuda naga yang bertanduk. Secara umum memang ada 2 aliran permainan barongsai yaitu utara dan selatan. Menurut Ucup (2010) pusat aliran barongsai selatan adalah Guang Dong dan memiliki banyak perbedaan antara satu dengan yang lain. Seperti layaknya binatang-binatang lainnya, barongsai harus diberi makan berupa Angpau yang ditempel dengan sayuran selada air yang lazim disebut "Lay See". Untuk melakukan tarian makan laysee ini para pemain harus mampu melakukan loncatan tinggi. Dahulu para pemain barongsai hanya dimainkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan silat - "Hokkian kun tao" yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (Quan= tinju, Dao= jalan) sekarang lebih dikenal dgn kata Wu Shu yang berarti seni menghentikan kekerasan.

Ritual Doa

Sebelum prosesi tarian barongsai dimulai selalu dilakukan ritual doa yang dilakukan kelompok pemain barongsai, guna mendapatkan kelancaran dan keselamatan dalam memainkan barongsai. dalam ritual doa biasanya diperlukan seperangkat peralatan khusus, antara lain:
  1. Kendi yang berisi bunga mawar dan bunga kenanga yang digunakan untuk memandikan kepala Barongsai yang dilakukan oleh suhu atau pimpinan pemain barongsai, kemudian dibacakan doa-doa.
  2. Piring kecil yang berisi kue apem dan kue lapis yang digunakan untuk persembahan kepada dewa selaku pemilik sejati Barongsai
  3. Hio yang berjumlah empat buah dan dibakar, kemudian diberikan kepada dewa untuk dipersembahkan, setelah itu diletakkan di kepala Barongsai. Setelah itu Barongsai dinyatakan sah untuk digunakan.
  4. Lilin merah yang dibakar dihadapan dewa langit dan dewa bumi yang ada di kelenteng.

Tahapan Permainan Barongsai

Ketika ritual doa telah selesai, maka permainanpun siap dilakukan. Permainan barongsai selalu diawali dengan tahapan penghormatan yang dilanjutkan dengan permainan attraktif dan ditutup dengan prosesi tidur. Bisanya durasi permainan barongsai cukup variatif, paling sedikit 30 menit hingga bergantung permintaan.
  1. Tahap penghormatan ini dilakukan oleh ketua tim pemain kepada penonton ataupun pimpinan kelenteng, jika permainan itu dilakukan di lingkungan kelenteng. Penghormatan dilakukan dengan cara membungkukkan badan dan menelungkupkan kedua tangan di depan dada, disertai anggukan sebanyak tiga kali berturut-turut. Tak lupa, pemain pengiring, yaitu pembawa bendera juga melakukan penghormatan serupa, namun dengan posisi berjongkok sambil memegang bendera dengan kedua tangan, dan kepala menunduk tiga kali. Kegiatan penghormatan juga dilakukan oleh Barongsai dengan cara berjalan di tengah arena permainan dengan menggangukkan kepala dan menggerakkan kaki ke kanan depan tiga kali, mundur ke belakang meninggalkan arena permainan. Aktivitas penghormatan ini dilakukan secara esesnsial juga ditujukan kepada leluhur dengan harapan permainan yang dilakukan akan berjalan aman, lancar tidak ada gangguan apapun.
  2. Permainan bendera dilakukan oleh satu atau dua orang pemain. Bendera yang dibawa adalah bendera perguruan atau bendera simbol masing-masing grup barongsai, biasanya berwarna dasar hitam dan berbentuk segitiga sama sisi dengan rumbai-rumbai di tepi alas segi tiga. Selain bendera perguruan, biasanya dimainkan pula bendera Persatuan Seni dan Olah Raga Barongsai Indonesia (PERSOBARIN). Bendera PERSOBARIN juga berbentuk segi tiga sama sisi dengan warna dasar merah. Permainan bendera dilakukan dengan melakukan gerakan-gerakan cepat dan dinamis. Bendera diputar-putar dengan kedua tangan di depan dada, kemudian secara cepat dipegang tangan kanan melingkari punggung dan ditangkap oleh tangan kiri. Gerakan-gerakan cepat juga dilakukan dengan memutar bendera melingkari kaki, punggung, dan dada.
  3. Permainan Barongsai merupakan inti dari permainan. Pada bagian ini akan ditampilkan atraksi pemain Barngsai meliak liuk di lantai dan berdiri secara seimbang diatas balok kayu/besi berbentuk bulat panjang. Permainan Barongsai di lantai adalah atraksi-atraksi yang dimainkan oleh para pemain Barongsai tanpa menggunakan alat peraga bantu. Demonstrasi gerak di lantai biasanya dilakukan dengan gerak singa berdiri, yaitu sebuah atraksi yang dilakukan dengan mengangkat pemain bagian depan yang memegang kepala oleh pemain belakang yang menjadi badan dan ekor. Gerakan berguling, yaitu pemain depan dan belakang berguling bersama-sama ke arah yang sama, sehingga terlihat seperti singa yang sedang berguling-guling. Atraksi-atraksi di lantai divariasikan dengan gerakan ekspresif, yang dilakukan dengan posisi diam, dan hanya kepala yang sedikit bergerak sambil kelopak matanya berkedip-kedip serta telinga yang digerak-gerakkan. Variasi ini dapat menghidupkan suasana, apabila pemain Barongsai itu terampil dan menunjukkan seolah seperti seekor singa yang sedang duduk, jongkok atau sedang merunduk dan siap menangkap mangsanya. Untuk menghidupkan suasana juga, barongsai di lantai menggunakan bola besar di mana barongsai akan berdiri dan berjalan di atas bola tersebut, terkadang pula barongsaina melompat-lompat di atas bola tersebut.

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai

Saturday, 10 February 2018

Pengertian Teater Tradisional Wayang Gambuh

Pengertian Teater Tradisional Wayang Gambuh. Menurut Sejarahnya Dikatakan bahwa Wayang Kulit Gambuh lahir dan berkembang di Blahbutuh dengan Arya Tega sebagai dalang yang pertama. Kini wayang Gambuh yang bersejarah masih sangat dikeramatkan di puri Blahbutuh. Selanjutnya wayang gambuh ini menyebar ke Sukawati dan ke daerah Badung. Cokorde Gede Agung Sukawati dari Puri kaleran Sukawati meniru bentuk wayang Gambuh Blahbutuh itu yang kemudian wayang ini disimpan di Pura Penataran Agung Sukawati. Seorang dalang I Ambul dari Sukawati mendapat pelajaran langsung dari I Gusti Tega (Arya Tega) yang asalnya dari Blambangan itu.

Setelah dalang pertama Arya Tega meninggal, ia digantikan oleh  putranya I Gusti kabor tahun 1905. Sebagai pengganti ayahnya, ia cukup terkenal mendalang wayang gambuh pada masa itu. Pada tahun 1908, kedudukan I kabor digantikan oleh putranya bernama I Gusti  Nyoman Pering Tega menggantikan kedudukannya sebagai dalang wayang gambuh, karena I Gusti Putu Samprug meninggal dalam umur yang tidak begitu lanjut. Demikianlah sejak kira-kira tahun 1915 tidak ada lagi dalang wayang gambuh di Blahbutuh. Sekitar tahun 1943,  pada masa kedudukan bala tentara Jepang, I Ketut Rinda, berusaha menghidupkan kembali Wayang Kulit Gambuh, namun tidak banyak membawa hasil.

Tampaknya kaderisasi dalang Wayang Kulit Gambuh perlu ditumbuhkan lagi, maka I Ketut Rinda membina seniman dalang I Made Sidja dan I Wayan Narta untuk mengikuti jejaknya menjadi dalang wayang Gambuh, Sejauh ini hanya dalang I Wayan Narta yang sesekali mementaskannya, dan itupun sangat jarang sekali.

Pengertian Wayang Gambuh

Wayang Gambuh merupakan suatu bentuk karyaseni yang sangat digemari serta diyakini memiliki arti dan makna yang sangat  penting di dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Wayang gambuh khusunya merupakan salah satu jenis wayang bali yang langka. Pada dasarnya adalah pertunjukannya wayang kulit yang melakonkan cerita Malat, seperti wayang Panji yang ada di Jawa. Karena pada pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit.

Unsur Wayang Gambuh

Wayang ini mengambil lakon dari cerita Malat (siklus Panji). Bentuk wayangnya merupakan transisi antara bentuk wayang Bali dengan bentuk wayang kulit Jawa (wayang Madya). Iringan seperti dramatari Gambuh yaitu : suling besar 3 atau 4 buah, 2 buah kendang kecil, masing-masing 1 buah kajar, klenang, klenong, kemanak, kangsi, gentorag, dan 1 buah kempul.

Fungsi Wayang Gambuh

  1. Sebagai pelengkap upacara dewa Yajnya dan manusia Yajnya. 
  2. Sebagai sarana suatu acara keagamaan bagi masyarkat  pendukungnya,dan
  3. Sebagai suatu hiburan tersendiri dan media komunikasi dalam masyarakat

Sumber:
http://www.academia.edu/8723815/Teater_Tradisional_Bali

Friday, 9 February 2018

Pengertian Teater Tradisional Topeng dari Bali

Pengertian Teater Tradisional Topeng dari Bali. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari topeng ini hingga kini mendapat tempat yang cukup istimewa di hati masyarakat, khususnya Hindu yang ada di Bali maupun orang Bali yang ada di luar Bali. Sebelumnya perlu kiranya diketahui, seni pertunjukan mempergunakan topeng di Bali sudah berkembang sejak zaman pemerintahan raja Jaya Pangus sekitar abad X. Dalam kumpulan prasasti Jaya Pangus ini sudah ditemui beberapa istilah-istilah seperti: atapukan yang artinya pertunjukan yang mempergunakan alat-alat penutup muka (topeng).

Definisi Teater Tradisional Topeng

Teater Tradisional Topeng adalah merupakan tarian yang melakonkan Babad Bali ini, dapat dilihat pada topeng keras diinspirasi style Prabangsa Pegambuhan dan topeng Arsa Wijaya mengambil style Panji. Selain itu, di Bali ditemukan beberapa buah prasasti yang memuat tentang kesenian topeng, salah satunya adalah prasasti Bebetin (tahun 896 Masehi), yang menyebutkan pertunjukan topeng sebagai atapukan. Di samping itu keberadaan topeng juga disebutkan dalam prasasti Blantih sekiktar tahun 1059 masehi.

Selain itu, ada juga prasasti tentang petopengan yaitu prasasti Ularan Plasraya. Dalam prasasti itu diceritakan tentang Pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel antara tahun 1460-1550. pada masa itu Dalem Waturenggong berniat menaklukan Kerajaan Blambangan. Dikirimlah pasukan tentara di bawah pimpinan Ki Patih Ularan dan ditemani I Gusti Jelantik Pesimpangan. Dalam pertempuran tersebut Sri Dalem Juru, Raja Blambangan, kepalanya dapat dipenggal dan Blambangan dapat ditaklukan. Sebagai bukti telah menaklukan Blambangan dirampaslah beberapa barang, di antaranya dua buah gong, satu keropang Wayang Gambuh dan satu peti topeng.

Pada masa pemerintahan Wirya Sirikan, sekitar tahun 1879 oleh I Gusti Jelantik, topeng yang jumlahnya 21 buah itu dipindahkan ke Blahbatuh, kini topeng-topeng itu disimpan di Pura Penataran Topeng yang berada di Blahbatuh, Gianyar. Dari 21 buah topeng tersebut, enam di antaranya yang memakai canggem sebagai alat memegang, topeng itulah yang diperkirakan berasal dari Jawa, karena sebagin besar topeng Jawa menggunakan canggem.

Fase teater tradisional Topeng Bali

  1. Topeng Pajegan (Kata pajegan mengacu kepada kegiatan pedesaan masyarakat Bali agraris, yang kini bisa diterjemahkan dengan �memborong�. Penari Topeng Pajegan memborong semua peran yang ada di dalam cerita. Yang ada hanya seorang pemain, dan cerita berkembang dengan seutuhnya lewat satu pemain. Pada intinya, Topeng Pajegan adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu).
  2. Topeng Panca (Drama tari topeng yang ditarikan oleh 5 ( lima ) orang penari. Topeng ini timbul di Denpasar sekitar tahun 1915. Topeng Panca dipentaskan oleh lima orang penari. Topeng ini merupakan perkembangan dari Topeng Pajegan. Topeng Panca ini berkembang menjadi Topeng Sapta, dengan tambahan penari Putri dan Condong)
  3. Topeng Prembon (Dramatari topeng yang sudah dikombinasikan dengan unsur drama tari Bali lainnya (biasanya dari arja) namun strukturnya patopengannya masih tetap dominan. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar).

Unsur Teater Tradisional Topeng

Kesenian topeng ini lahir sebagai produk budaya dari suatu masa, yang dapat dipandang sebagai sebuah indikasi pergeseran sistem nilai dalam kehidupan garapan seni budaya. Pertunjukan dramatari topeng dibentuk oleh perpaduan dari bermacam-macam kesenian dan semuanya terpadu secara utuh, indah dan harmonis. Bentuk pertunjukannya yang kompleks ini menjadikannya sebagai pertunjukan total teater.

Hal ini dikarenakan mengandung berbagai jenis unsur seni seperti; seni tari, seni suara (tembang dan monolog), seni drama (laku dan dialog), seni pantomim, seni rupa, seni sastra, dan seni musik. Ungkapan dramatiknya dilakukan lewat aksi dan dialog, sehingga penontonnya mudah menangkap maksud yang diungkapkan pemainnya.

Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan � yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Drama tari topeng yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali.

Fungsi Teater Tradisional Topeng

  1. Sebagai tari upacara, dikarenakan pelaksanaannya dipertunjukan pada saat bersamaan dengan berlangsungnya proses upacara.
  2. Sebagai pelengkap upacara, sebab pelaksana pertunjukannya dilaksanakan setelah waktu pelaksanaan upacara inti.

Sumber
http://www.academia.edu/8723815/Teater_Tradisional_Bali

Pengertian Calonarang Teater Tradisional Bali

Pengertian Teater Tradisional Calonarang. Teater Calonarang diduga muncul pada tahun 1825 pada zaman kerajaan Klungkung. Teater ini memiliki perpaduan dari 3 unsur penting yakni, Bebarongan, Rangda, Celuluk, Condong, Putri, Patih Manis, Patih Keras, Palegongan yang di wakili oleh sisiya-sisiya (murid-murid). 

Bentuk-bentuk seni pertunjukan yang ada ketika itu biasa dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi (trajangan atau tingga) dan pohon pepaya. Kemudian beberapa penari perlu mendapat perlindungan khusus dari leyak dan penari Pandung juga perlu mejalani upacara penyucian sebelum pertunjukan. Pada puncak pertempuran, Pandung berusaha membunuh Rangda, tetapi gagal karena kekuatan magis topeng Rangda dan penari yang memakainya.

Pada tahun 1931, Antonin Artaud, seorang dramawan terkemuka Prancis sempat sangat terpesona dengan drama tari Calonarang. Karena ketika itu, Artaud dan para pekerja seni pertunjukkan di Eropa sempat digemparkan pementasan Calonarang oleh para seniman Bali yang dipimpin oleh Cokorda Gede Raka Sukawati di arena Paris Colonial Exhibition. Sampai-sampai karya Artaud seperti No More Master Sieces dan The Theatre and Palgue dikenal kental bernuansa drama tari Calonarang. Meskipun zaman telah berubah, akan tetapi pertunjukkan drama tari Calonarang masih tetap menjadi pertunjukkan hiburan yang sangat disukai wisatawan.

Definisi Teater Tradisional Calonarang

Calonarang adalah merupakan sebuah dramatari yang identik dengan drama ilmu sihir, ilmu hitam, maupun ilmu putih yang dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen yang dibentuk dari perpaduan unsur Pagambuhan, Pearjaan dan Bebarongan. Pada umumnya lakon yang ditampilkan berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa Timur) pada abad ke IX.

Fungsi Teater Tradisional Calonarang

  1. Sebagai pedoman upacara penyucian (ruwetan) atau acara pengusir mala petaka.
  2. Sebagai hiburan, bagi masyarakat dikarenakan di dalamnya terdapat berbagaimacam pesan sosial akan kehidupan.

Unsur-unsur teater tradisional Calonarang

  1. Babarongan yang diwakili Barong Ket, Rangda dan Celuluk;
  2. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong, Putri, Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandu); dan
  3. Unsur Palegongan yang diwakili oleh Sisiya-sisiya (Murid). Pertunjukan ini biasanya ditampilkkan oleh seorang Balian (Dukun) yang memiliki kesaktian tinggi. 

Inti dari pertunjukkan ini adalah memanggil leak disekitar tempat pertunjukan untuk diadu kekuatannya. Jika Balian kalah, maka Balian tersebut akan mati, namun jika Balian tersebut menang maka kemampuannya akan diakui oleh orang lain. Pertunjukan ini dimulai pada tengah malam dan penonton yang menyaksikan dilarang meninggalkan tempat pertunjukan hingga pertunjukan selesai, karena jika nekat meninggalkan tempat pertunjukan maka orang tersebut akan diganggu oleh leak.

Sumber
http://www.academia.edu/8723815/Teater_Tradisional_Bali

Pengertian Arja Teater Tradisional Bali

Pengertian Arja Teater Tradisional Bali. Arja diduga berkembang sejak sekitar tahun 1814, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, saat diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon besar-besaran ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali. Pada saat itu atas prakarsa I Dewa Agung Mangis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe digelarkan untuk pertama kalinya Arja. Ketika itu Arja dikenal dengan nama Dadap dan lakon yang dipertunjukkan adalah Limbur. Dadap adalah nama sejenis pohon dan juga berarti perisai. Pohon Dadap adalah kayu sakti, sebagai lambang pembersihan atau alat penyucian yang harus ada dalam setiap upacara di Bali.

Waktu itu Arja digelar dengan tata cara wayang lemah untuk upacara pelebon, dengan memakai dahan dadap sebagai tiang kelir. Sejalan dengan wayang lemah maka tokoh-tokoh Arja pun dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang baik dan yang buruk. Tembang Arja adalah tembang Lelawasan, sejenis kidung atau tembang Gambuh. Arja tidak menggunakan gamelan dan semua tokoh diperankan oleh pria, sehingga di Singaraja dan Gianyar disebut Arya Doyong. Menurut mereka yang mengetahui, sejak itu Arja menyebar ke seluruh Bali. Menjelang berakhirnya abad XX munculah Arja dimana keseluruhan pemainnya adalah laki - laki yang sering di sebut dengan Arja Muani ( arja laki - laki ) yang di sambut dengan antusias oleh masyarakat.

Definisi Arja

Arja adalah merupakan seni teater yang bersifat kearakyatan dan sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana, seni rupa dan sebagainya. Semua jenis seni yang bersatu dalam Arja dapat saling menyatu dan padu, sehingga satu sama lain tidak saling merugikan.

Perpaduan ini amat menyatu dan padu, seperti halnya seni suara yang bertangga nada slendro/pelog menjadi tembang yang sangat merdu dan menarik, sedangkan sebagai pendukung dan penagasan ceritera dilakukan melalui monolog dan dialog. Sesungguhnya Arja adalah perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang datang dari para pendukung (pemain) dan penonton.

Seperti bentuk teater tradisi Bali lainnya, arja merupakan bentuk teater yang penekanannya pada tari dan nyanyi. Semacam gending yang terdapat di daerah Jawa Barat (Sunda), dengan porsi yang lebih banyak diberikan pada bentuk nyanyian (tembang). Apabila ditelusuri, arja bersumber dari gambuh yang disederhanakan unsur-unsur tarinya, karena ditekankan pada tembangnya. Tembang (nyanyian) yang digunakan memakai bahasa Jawa Tengahan dan bahasa Bali halus yang disusun dalam tembang macapa.

Nama Arja ini di duga berasal dari bahasa Sansekerta Reja yang mempunyai arti keindahan, Arja adalah jenis opera khas Bali yang merupakan sebuah drama tari yang dialognya ditembangkan secara macapat.

Fase Perkembangan Teater Arja

  1. Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang).
  2. Arja Gaguntangan (memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang)
  3. Arja Gede (dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang. 

Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari). Biasanya arja selalu diiringi dengan menggunakan gamelan geguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.

Unsur-Unsur Teater Arja

Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat), kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.

Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta dan Kartala. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif.

Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani, pemainnya semua pria, sebagian memerankan wanita. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena, menghadirkan komedi segar.

Fungsi Teater Arja

Menurut fungsinya Arja digolongkan ke dalam kelompok Tari Balih-balihan. Sebagai suatu bentuk teater Arja dipengaruhi oleh Gabuh dan mempunyai uger-uger atau pola yang mencerminkan zaman Puri. Arja menyajikan ceritera kerajaan dan perwatakannya sangat dipengaruhi oleh adanya kasta. Arja berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat yang berperan serta dalam berbagai upacara keagamaan, kemudian juga berkembang untuk kepentingan amal, hiburan di pasar malam dan kepentingan lainnya. 

Sebagai suatu pertunjukan Arja mempunyai makna juga untuk pendidikan. Biasanya masyarakat sesudah menonton Arja berhari-hari akan menirukan nyanyian dan lelucon yang ditampilkan oleh kelompok yang baru saja mereka lihat. Gerakan-gerakan lucu atau ungkapan tentang kejadian-kejadian yang menggelitik akan mereka ulangi dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian Arja merupakan suatu medua komunikasi yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan. 

Cerita-Cerita Arja sangat beragam, dari Cerita Panji, Cerita Rakyat, Cerita Mahabarata, Ramayana dan sebagainya berkembang sampai Cerita-Cerita keseharian, semuanya dapat dijala dan dijalin menjadi suatu pertunjukan yang sekaligus seni, yang dapat membuat orang sejenak melupakan segala permasalahan keluarga, pekerjaan dan lainnya yang dialami pada siang hari sebelumnya.

Sumber
http://www.academia.edu/8723815/Teater_Tradisional_Bali

Tuesday, 6 February 2018

Pengertian Gambuh Teater Tradisional Bali

Pengertian Gambuh Teater Tradisional Bali. Bali memiliki berbagai macam kesenian teater tradisional, Sebagai sebuah karya seni klasik Bali, teater tradisional termasuk karya seni yang cukup bermutu dan hidup terus, memenuhi hampir seluruh kurun sejarah kehidupan seni budaya di Bali. Berikut adalah penjelasan seputar pengertian Teater Tradisional Gambuh.

Sejarah Perkembangan Gambuh

Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total teater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya / Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya dan kasar. Pementasannya dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya

Definisi Gambuh

Gambuh adalah merupakan tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.

Keunikan pada gamelan Gambuh terletak pada suling panjang yang memerlukan circular blown breathing terus menerus. Iringan Gambuh dapat diganti dengan gamelan Semar Pagulingan karena memiliki persamaan laras. Di Bali ceritra Panji memiliki pengaruh yang sangat luas dan menunjukkan perkembangan yang sangat kompleks karena ceritra itu berkembang dalam berbagai jalur dan kreativitas seni. Kendatipun Gambuh kini jarang dipentaskan hanya sebatas upacara tertentu yang memerlukannya, namun bentuknya sudah diwarisi oleh seni pertunjukan lainnya yang lebih populer.

Unsur Teater Tradisional Gambuh

Gambuh yang terbentuk di Bali tidak hanya memperkenalkan cerita sebagai lakon yang memunculkan adanya struktur dramatik yang lengkap, akan tetapi memperkenalkan pula koreografi yang rumit dan penampilan yang artistik, untuk hiburan raja dan para bangsawan kerajaan. Bentuk pertunjukan Gambuh memiliki standar kualitas tertentu yang mencirikan Gambuh, yaitu memiliki struktur pertunjukan dan koreografi serta iringan musik yang pasti, perbendaharaan gerak yang lengkap dengan aturan-aturan yang ketat, yang tidak dimiliki oleh Bali sebelumnya. Begitu pula kostum yang digunakan sangat megah, berbeda dengan kostum yang digunakan oleh tarian-tarian sebelumnya yang sangat sederhana. Itulah yang menyebabkan Gambuh dikatakan sebagai sumber drama tari yang muncul kemudian di Bali

Fungsi Teater Tradisional Gambuh

  1. Sebagai Tari Bebali (seremonial), yaitu sebagai pengiring upacara di pura-pura. Dramatari Gambuh sebagai tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali adalah merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, music, dialog dan tembang.
  2. Sebagai sarana dan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama tingkatan upacara "mapeselang". Tarian Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bhatara turun ke paselang
  3. Sebagai sebuah hikayat yang menceritakan kehidupan, peperangan, roman dari raja-raja Jenggala, Kediri, Gegelang, dan sebagainya.

Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Gambuh
http://www.academia.edu/8723815/Teater_Tradisional_Bali

Pengertian Ludruk Teater Tradisional

Pengertian Ludruk Teater Tradisional. Secara etimologis, kata ludruk berasal dari kata molo-molo dan gedrak- gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi yang hendak dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung, dan dialog. Sedangkan gedrak-gedruk berarti kakinya menghentak-hentak pada saat menari di pentas.

Pendapat lain mengatakan bahwa ludruk berasal dari kata-kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Gela-gelo berarti menggeleng-nggelengkan kepala pada saat menari, dan gedrak-gedruk berarti menghentakkan kaki di pentas pada saat menari.

Apabila disesuaikan, kedua pendapat tersebut memiliki pengertian yang sama, yaitu verbalisasi kata-kata dan visualisasi gerak. Dengan kata lain, terdapat unsur nyanyian (kidung) dan unsur tari atau unsur bahasa dan gerak. Unsur bahasa atau verbal dalam ludruk terdiri atas dua macam bentuk verbal, yaitu nyanyian (kidungan) dan dialog (narasi). Sedangkan unsur gerak dapat berupa tarian pada saat mengidung dan akting pada saat memainkan peran di pentas.

Definisi Ludruk adalah merupakan suatu kesenian drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan tarian, lawakan, kidungan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Menurut Cak Lupus kata ludruk berasal dari bahasa belanda yaitu �Loedruck� yang berarti sebuah tontonan.

Menurut versi lain kata ludruk merupakan serapan dari bahasa belanda yaitu �leuk en druk� yang mempunyai arti bersenang-senang sambil menonton pertunjukan.

Secara historis perkembangan ludruk bermula dari kesenian bandhan. Kesenian bandhan ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang bersifat magis dengan menitikberatkan pada kekuatan batin. Kemudian berkembang menjadi kesenian lerok yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang. Kata lerok yang diambil dari kata lira, yaitu alat musik yang berbentuk seperti kecapi (cimplung siter) yang dipetik sambil bersenandung mengungkapkan isi hati. Pada saat itu, Pak Santik menghias dirinya dengan cara mencoret-coret mukanya, memakai ikat kepala, bertelanjang dada, mengenakan celana berwama hitam, dan mengenakan selendang sebagai sampur. Dalam pementasan kesenian lerok itu Pak Santik memanfaatkan suara-suara dari mulutnya sebagai iringan musik. Lambat laun pementasan lerok memanfaatkan gendhang yang digunakan sebagai cimplung (semacam ketipung) dan jidhor (tambur besar).

Kemudian, terjadi penambahan pemain, menjadi tiga orang dan timbullah nama baru, yaitu kesenian besutan. Nama ini diambil dari nama tokoh pemeran utama, yaitu Pak Besut. Pemain lainnya bernama Asmonah (isteri Besut) dan Paman Jamino. Besut juga berasal dari bahasa jawa yaitu mbesut yang berarti membersihkan yang kotor atau menghaluskan atau mengulas. Adapun yang dibersihkan, dihaluskan, dan diulas adalah isi pertunjukan. Mulai dari bentuk yang sangat sederhana, ditingkatkan agar lebih baik, sehingga maknanya yang tersirat dapat diulas oleh penonton. Besut juga merupakan akronim dari mbeto maksud (membawa maksud). Maksud yang dibawa adalah isi pertunjukan, yaitu yang terkandung dalam kidungan, busana, dialog, maupun cerita.

Bentuk kesenian besutan berubah lagi menjadi kesenian ludruk yang berbentuk sandiwara dengan tokoh yang semakin bertambah jumlahnya. Bentuk ini tetap mempertahankan ciri khas ludruk seperti tarian ngremo, kidungan, dagelan, dan cerita (lakon). Kesenian ludruk mengalami dua era yaitu era tobongan dimana pemain ludruk berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain untuk �ngamen� dengan waktu yang tidak pasti tergantung antusias penduduk setempat, jumlah pemain kurang lebih 40 orang. Selanjutnya era teropan (ditanggap) dimana para pemain ludruk dipanggil untuk menghibur pada waktu ada hajatan, jumlah pemain kurang lebih 70 orang (termasuk penari dan penabuh gamelan).

Fungsi Ludruk

Ludruk merupakan pertunjukan kesenian yang fungsi utamanya adalah sebagai media hiburan masyarakat. Selain itu ludruk juga berfungsi sebagai pengungkapan suasana kehidupan masyarakat. Di samping itu, kesenian ini juga sering dimanfaatkan sebagai penyaluran kritik sosial terhadap situasi pemerintahan dan juga persoalan masyarakat yang terjadi.

Kesenian ludruk diduga merupakan budaya rakyat yang lahir untuk �memberontak� model kesenian keraton dan istana semacam wayang dan ketoprak yang ceritanya terlalu elit dan tak menyentuh rakyat. Cerita-cerita ludruk umumnya mengangkat masalah kehidupan orang kecil sehari-hari dengan penggunaan bahasa yang lebih merakyat atau sederajat dan terkesan �kasar� tanpa unggah-ungguh (bahasa ngetannan) bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam pewayangan ataupun ketoprak. Pada jaman revolusi, ludruk bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan saja melainkan juga sarana komunikasi antara pejuang bawah tanah dengan rakyat yang menyaksikannya.

Pada zaman Jepang kesenian ludruk berfungsi sebagai media kritik terhadap pemerintah. Ini tampak terutama dalam ludruk Cak Durasim yang terkenal dengan parikan �Pagupon omahe dara, melok Nippon tambah sengsara�. Dengan parikan serupa itu Cak Durasim ternyata berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang. Cak Durasim akhirnya ditangkap dan meninggal dalam tahanan Jepang.

Ciri Khas Ludruk

  1. Pertunjukan ludruk tidak menggunakan naskah. Kekuatan ludruk berada pada improvisasi setiap lakon atau pemain.
  2. Terdapat pemeran wanita yang diperankan oleh laki-laki.
  3. Terdapat lantunan kidungan jula-juli, baik pada tari remo, tari bedayan, dagelan, dan cerita.
  4. Iringan musik berupa gamelan berlaras slendro atau pelog.
  5. Pertunjukan dibuka dengan Tari Ngremo.
  6. Terdapat adegan Bedayan.
  7. Terdapat sajian/adegan lawak/dagelan.
  8. Terdapat selingan parodi.
  9. Cerita luduk diambil dari cerita keseharian rakyat, cerita sejarah, dan merupakan ekspresi kehidupan sehari-hari.
  10. Busana menyesuaikan cerita yang akan dipentaskan.
  11. Bahasa disesuaikan dengan lakon yang dipentaskan, dapat berupa bahasa Jawa (ngetanan), madura, dan indonesia.

Struktur pementasan kesenian ludruk

  1. Pembukaan, diisi dengan atraksi Tari Remo pria maupun wanita. Penari Remo biasanya melantunkan kidungan Jula-juli.
  2. Selanjutnya Tarian Bedayan, berupa tampilan beberapa parodi dengan berjoget ringan sambil melantunkan kidungan jula-juli.
  3. Kemudian atraksi dagelan berupa tampilan seorang pelawak yang melantunkan satu kidungan jula-juli disusul oleh beberapa pelawak lain. Mereka kemudian berdialog dengan materi humor yang lucu.
  4. Penyajian lakon atau cerita. Bagian ini merupakan inti dari pementasan. Biasanya dibagi beberapa babak dan setiap babak dibagi lagi menjadi beberapa adegan. Di sela-sela bagian ini biasanya diisi selingan dengan melantunkan satu kidungan jula-juli.

Referensi
Kementerian pendidikan dan kebudayaan 2016

Saturday, 27 January 2018

Pengertian Ubrug Teater Tradisional

Pengertian Ubrug Teater Tradisional. Provinsi Banten yang dibentuk tiga belas tahun silam memiliki beragam tradisi lisan yang masih hidup dan berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah teater tradisional ubrug. Ubrug termasuk salah satu tradisi lisan, karena memiliki ciri-ciri berikut; tradisi tersebut telah berlangsung lama, dinamis dan masih berlangsung, ada penonton, pemahaman penutur dan penonton sama, homogen, ruang dan waktu yang sama, serta spontanitas (Pudentia, 2008:2).

Definisi Ubrug

Sedangkan istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda �sagebrugan� yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini memang menggambarkan unsur-unsur kesenian ubrug, seperti pemain, nayaga, dan penonton yang tumplek dalam satu lokasi. Pertunjukan ubrug memang cukup sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Bahkan tak jarang seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung sekalipun. Mereka bisa pentas di tanah lapang dengan arena pertunjukan berbentuk tapal kuda, penonton mengelilingi tempat permainan. Sehingga penonton bisa menyaksikannya dari berbagi sudut. Kedekatan antara pemain dengan penonton ini memungkinkan pertunjukkan menjadi semakin menarik.

Kesenian Ubrug merupakan teater tradisional Banten yang memadukan unsur teater, musik, tari, dan seni bela diri. Elemen-elemen ini digelar dalam balutan komedi. Ubrug diiringi oleh seperangkat alat musik seperti gendang, saron, kempul, gong angkeb, piul dan kecrek. 

Menurut Ali Faisal, ubrug adalah teater rakyat yang memiliki fungsi sebagai media penyampai informasi atau pesan kepada masyarakat atas gambaran kenyataan kehidupan masyarakat. Ubrug juga mampu menampilkan karakteristik masyarakat yang heterogen dalam media lakon. Konten dalam ubrug diharapkan mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan gambaran masyarakat pada umumnya. Demikian pula dengan tujuan ubrug di masyarakat sebagai media penyampai pesan sosial yang juga mampu memberikan penghiburan bagi masyarakat.

Ubrug merupakan kesenian teater rakyat yang memadukan segala jenis kesenian seperti lakon, musik, tari, dan pencak silat dengan cara komedi.

Menurut Ensiklopedi Sunda (2000: 672) yang dimaksud dengan ubrug adalah semacam teater tradisional di daerah Banten, dipentaskan di lapangan atau di halaman bangunan umum seperti stasiun, diiringi gamelan.

Ubrug menurut Marim, wakil ketua komunitas Ubrug Cantel Group berasal dari kata gabrugan, abrag, grubug, dan ubreg (istilah Jawa Serang). Gabrugan berarti memanfaatkan pelaku seni peran sesuai dengan keahlian dan kemampuannya dalam memainkan suatu peran. Abrag dalam arti teks adalah tidak ada rasa atau tidak ada isi. Grubug berarti bohong, sedangkan ubreg berarti ribut, berisik, bercanda, atau ngebanyol.

Pengertian ubrug adalah pertunjukan komedi masyarakat yang memiliki kemampuan akting secara alamiah untuk keperluan ritual dan hiburan tanpa teks naskah atau pakem. Para panjak atau nayaga dan sinden yang bertugas mengiringi proses penampilan ubrug berada di sisi kiri depan panggung. Penempatan itu bertujuan mempermudah komunikasi antara penari dengan dalang. Para panjak duduk dengan memegang alat-alat musik tradisional yang dikuasainya.

Pemain ubrug terdiri atas pemain (pembawa lakon), panjak (nayaga), penari, dan sinden. Pemain ubrug didominasi oleh kalangan tua dan orang dewasa. Sangat sulit untuk mendapatkan pemain ubrug dari kalangan remaja. Sedangkan Jumlah pemain dalam setiap pementasan ubrug tidak selalu sama, bergantung kebutuhan cerita. Untuk tema keluarga, biasanya ada yang berperan sebagai ayah, ibu, anak, pembantu, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Kostum yang dikenakan oleh pemain tergantung dari peran yang dibawakan. Jika seorang pemain berperan sebagai seorang ayah maka pakaian yang dikenakan adalah pakaian layaknya seorang ayah. Khusus untuk pakaian dan tata rias wajah yang dikenakan oleh bodor merupakan pakaian dan tata rias wajah yang mengandung kelucuan. Tujuan penggunaan dan tata rias wajah seperti ini agar penonton tertawa dan senang untuk menonton ubrug.

Referensi
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/2015/04/17/ubrug/
https://www.bantennews.co.id/mengenal-ubrug-kesenian-khas-banten/

Friday, 26 January 2018

Pengertian Longser Teater Tradisional

Pengertian Longser Teater Tradisional. Longser merupakan Teater tradisional dari Jawa Barat pertunjukan Longser dapat diselenggarakan di mana saja, sebab tidak memerlukan dekorasi yang rumit. Penonton dapat menyaksikan Longser dengan hanya duduk melingkar. Jika dilihat dari sejarahnya Puncak popularitas teater Longser berada pada tahun 1920 �1960.

Definisi Longser

Longser berasal dari kata "melong" yang artinya melihat dan "seredet" yang artinya tergugah. Maka Secara umum Longser berarti bahwa barang siapa yang melihat atau menonton pertunjukan tersebut, maka hatinya akan tergugah. Sama halnya dengan teater-teater tradisional yang lain, Longser juga bersifat hiburan yang sederhana, jenaka dan menghibur.

Sebagai teater rakyat, Longser dipertunjukan di tengah-tengah penonton. Bahkan, pada awal perkembangannya, Longser hampir tidak pernah dipentaskan di sebuah panggung yang ditata sedemikan rupa. Di mana terdapat penonton, di sana Longser digelar, apakah tempat ini alun-alun, terminal, stasiun, atau bahkan di pinggir jalan.

Longser terdiri dari pemain musik yang memainkan alunan musik dari alat musik tradisional, lalu terdapat para ronggeng, sinden, dan para pemain cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari, dan tidak hanya cerita biasa yang disampaikan ke masyarakat melainkan ada pesan moral di dalamnya (Indonesia Indah � Teater Tradisional Indonesia, � , 1996).

Disisi lain Pelestarian kesenian teater Longser membantu melestarikan dan menjaga kesenian lainnya, seperti alat-alat musik tradisional yang biasa digunakan untuk pertunjukan Longser antara lain: kendang, boning, rebab, rincik, gambang, saron 1, saron 2, kecrek, jengklong, goong, dan ketuk. Tidak hanya alat musik tradisional tetapi seni tari tradisional seperti jaipong, pencak silat, cikeruhan, dan tari uyeg. Dengan menjaga kesenian Longser, alat musik tradisional dan seni tari yang ada di dalamnya akan tetap terjaga dan tidak akan punah

Longser kini perlahan mulai hilang akibat dari gaya hidup dan masuknya kebudayaan luar yang lebih berkembang di Indonesia. Selain itu lakon-lakon terkenal Longser sudah tidak ada lagi, karena lakon Longser zaman dahulu sangat kuat dengan karakter masing-masing (Dr. Arthur S.Nalan). 
.

Thursday, 7 December 2017

Seputar Pengertian Pantomim

Seputar Pengertian Pantomim. Salah satu cabang seni yang terkenal dalam pementasan melibatkan penonton dalam berimajinasi adalah Pantomim. Pertunjukan ini lebih banyak mengungkapkan perasaan dibanding kata-kata. Karena perasaan bila dijelaskan lewat kata, tentulah tidak lengkap. Dengan berlatih pantomim seseorang juga akan terasah imajinasi nya, seperti yang telah kita ketahui bahwa semua ciptaan-ciptaan manusia di muka bumi ini berawal dari imajinasinya. Berikut adalah pengertian pantomin.

Seputar Pengertian Pantomim


Definisi Pantomim

Istilah pantomim berasal dari bahasa Yunani yang artinya serba isyarat. Jadi secara etimologis, pertunjukan pantomim yang dikenal sampai sekarang itu adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Pertunjukan itu bahkan bisa sepenuhnya tanpa suara apa-apa. Jelasnya, pantomim adalah pertunjukan bisu.

Pantomim adalah ekspresi gerak - gerik tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain. 

Menurut Wikipedia pengertian Pantomim (pantomimus) adalah suatu pertunjukan teater yang menggunakan isyarat, dalam bentuk mimik wajah atau gerak tubuh, sebagai dialog. Jenis pertunjukan ini telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno dan sering digunakan dalam ritus keagamaan dengan cerita umumnya seputar mitologi Yunani. Pantomim kembali populer pada abad ke-16 dengan berkembangnya Commedia dell'arte di Italia yang membawa pantomim pada bentuknya yang sekarang yang mengutamakan pada lakon komedi.

Menurut Harymawan, pengertian Pantomim adalah salah satu bentuk kesenian yang akan mengantar seseorang menjadi pemeran berkualitas. Dengan memahami dan melatih Pantomim maka calon aktor akan mampu menjadi sempurna dalam profesinya, ia setidaknya akan enak dipandang mata jika mau berlatih Pantomim.

Secara Umum pantomim adalah merupakan suatu seni pertunjukan tersendiri, disamping pantomim dapat pula dipahami sebagai disiplin ilmu yang harus dilakukan oleh calon aktor. Jika dipahami sebagai bagian latihan keaktoran maka pantomim merupakan salah satu kajian yang sangat diperlukan seorang aktor. Pantomim merupakan salah satu cara yang bakal mengantar seseorang menjadi pemeran berkualitas. Dengan memahami dan mengamalkan pantomin calon aktor akan mampu menjadi sempurna dalam profesinya, ia setidaknya akan enak dipandang mata jika mau berlatih pantomim.
.

Wednesday, 29 November 2017

Pengertian Mak Yong Dan Jenis-Jenisnya

Pengertian Mak Yong Dan Jenis-Jenisnya. Mak Yong merupakan tarian Melayu yang begitu unik dan halus sifatnya. Ia merupakan satu kombinasi dari unsur-unsur tarian, musik, drama dan komedi yang dipentaskan secara teater keliling. 

Mak Yong dahulu dikenal sebagi suatu permainan yang dipercayai ada kaitannya dengan upacara pemujaan roh. Yong atau Yang adalah merupakan variasi dari Hiang yaitu perkataan melayu lama yang membawa maksud divinity. Ma Hiang adalah merupakan Roh ibu bagi masyarakat melayu sebelum kedatangan Islam. Roh Ibu yang dipercayayi sebagai pengaruh besar atas penanaman padi. Berikut adalah penjelasan seputar Pengertian Mak Yong serta jenis-jenis Mak Yong.

Pengertian Mak Yong Dan Jenis-Jenisnya


Definisi Mak Yong

Seperti Dikutip dari Wikipedia Pengertian Mak Yong adalah merupakan seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai drama tari dalam forum internasional. Ketika zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi. 

Mak Yong adalah sandiwara cerita yang digabungkan dengan tarian dan nyanyian sekaligus. Dalam pertunjukan Mak Yong, di tampilkan cerita-cerita yang pada umumnya adalah cerita warisan yang di peroleh dari para tukang cerita secara lisan. Dialog antar pemain di lakukan secara improvisasi dan umumnya dialog ini berkembang sesuai kekuatan imajinatif permainan tanpa ada patokan. 

Cerita Makyong selalu berkisar tentang kehidupan kerajaan seperti cerita raja-raja, permaisuri, tuan putri, putri mahkota yang di timpa musibah dan berakhir dengan kemenangan dengan melalui perjuangan. Kemenangan akan di peroleh dengan bantuan pihak yaitu bantuan dewa-dewi dari kahyangan atau tokoh sakti yang berada di jalan yang benar.

Peralatan yang diperlukan dalam pertunjukan adalah rotan, parang, keris, kapak, panah, tongkat kayu (untuk dijadikan sakti), cangai (kuku palsu yang panjang) sekali di buat dari bahan yang berkilat seperti emas dan lain-lain. Sedangkan alat-alat musik yang di perlukan adalah nafiri, gong, gedombak, gendang, mong dan breng-breng. Bertabik, selendang awang, iakn kekek, timang-timang anak, dan saridam. Dan tari yang di bawakan menjunjung sambah, gembak, memanggil awang, tanduk dan lain-lain.

Jenis-jenis Mak Yong

  1. Mak Yong Pattani - berada di Pattani, Yala dan Narathiwat, tiga daerah di selatan Thailand yang dahulunya merupakan wilayah Kesultanan Melayu Pattani.
  2. Mak Yong Kelantan - ditemui di negeri Kelantan dan daerah Besut, Terengganu, Malaysia.
  3. Mak Yong Kedah - ditemui di negeri Kedah, Malaysia.
  4. Mak Yong Laut - ditemui di negeri Perlis (Malaysia) dan wilayah Satun (Thailand).
  5. Mak Yong Riau - ditemui di Wilayah Riau, Indonesia.
  6. Mak Yong Medan - ditemui di Medan, wilayah Sumatera Utara, Indonesia.
  7. Mak Yong Kalimantan - ditemui di Kalimantan, Indonesia.
  8. Mak Yong Mantang - ditemui di Pulau Mantang, Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Merupakan jenis makyong yang memakai topeng.

Sumber
https://id.wikipedia.org/wiki/Mak_Yong

Tuesday, 18 July 2017

Pengertian Adat Istiadat

Pengertian Adat Istiadat. Istilah adat istiadat seringkali diganti dengan adat kebiasaan, namun pada dasarnya artinya tetap sama, Apabila mendengar kata adat istiadat biasanya aktivitas individu dalam suatu masyarakat dan aktivitas selalu berulang dalam jangka waktu tertentu. Berikut adalah penjelasan seputar pengertian Adat Istiadat.

Definisi Adat Istiadat

Adat istiadat adalah segala dalil dan ajaran mengenai bagaimana orang bertingkahlaku dalam masyarakat. Rumusannya sangat abstrak, karena itu memerlukan usaha untuk memahami dan merincinya lebih lanjut. Adat dalam pengertian ini berfungsi sebagai dasar pembanguan hukum adat positif yang lain. Adat istiadat yang lebih nyata yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut JC. Mokoginta adat istiadat adalah bagian dari tradisi yang sudah mencakup dalam pengertian kebudayaan. Karena itu, adat atau tradisi ini dapat dipahami sebagai pewarisan atau penerimaan norma-norma adat istiadat. 

Secara Umum adat istiadat adalah sebuah aturan yang ada dalam suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat aturan-aturan kehidupan manusia serta tingkah laku manusia didalam masyarakat tersebut, tetapi bukan merupakan aturan hukum. 

Adat istiadat dalam ilmu hukum ada perbedaan antara adat istiadat dan hukum adat. adat istiadat yang hidup atau menjadi tradisi dalam masyarakat dapat berubah dan diakui sebagai peraturan hukum adat. Pandangan bahwa agama memberi pengaruh dalam proses terwujudnya hukum adat, pada dasarnya bertentangan dengan konsepsi yang diberikan oleh Van den Berg yang dengan teori reception in complex menurut pandangan adat istiadat suatu tradisi dan kebiasaan nenek moyang kita yang sampai sekarang masih dipertahankan untuk mengenang nenek moyang kita juga sebagai keanekaragaman budaya.

Istilah adat istiadat seringkali diganti dengan adat kebiasaan, namun pada dasarnya artinya tetap sama. Jika mendengar kata adat istiadat biasanya aktivitas individu dalam suatu masyarakat dan aktivitas ini selalu berulang kembali dalam jangka waktu tertentu (bisa harian, mingguan, bulanan, tahunan dan seterusnya), sehingga membentuk suatu pola tertentu Adat istiadat berbeda satu tempat dengan tempat yang lain, demikian pula adat di suatu tempat. Adat istiadat yang mempunyai akibat hukum dinamakan hukum adat.

Adat istiadat juga mempunyai akibat-akibat apabila dilanggar oleh masyarakat, dimana adat istiadat tersebut berlaku. Adat istiadat tersebut bersifat tidak tertulis dan terpelihara turun temurun, sehingga mengakar dalam masyarakat, meskipun adat tersebut tercemar oleh kepercayaan (ajaran) nenek moyang, yaitu Animisme dan Dinamisme serta agama yang lain. Dengan demikian adat tersebut akan mempengaruhi bentuk keyakinan sebagian masyarakat yang mempercampur adukan dengan agama Islam.

Adat istiadat suatu masyarakat adalah resepsi seluruhnya dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan. Biasanya diikuti atau diwujudkan oleh banyak orang. Maka Dapat disimpulkan bahwa adat istiadat adalah aktivitas prilaku-prilaku, tindakan-tindakan individu satu terhadap yang lain yang kemudian menimbulkan reaksi, sehingga menghasilkan suatu interaksi sosial. Perilaku dan tindakan manusia pada dasarnya adalah gerak tumbuh manusia.
.

Monday, 27 March 2017

Pengertian Ogoh-Ogoh Dan Fungsinya

Pengertian Ogoh-Ogoh Dan Fungsinya. Ogoh-ogoh itu sendiri diambil dari sebutan ogah � ogah dari bahasa Bali yang artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Pada tahun 1983 merupakan bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali, pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali. Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar. Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII.

Pengertian Ogoh-Ogoh Dan Fungsinya

Definisi Ogoh-Ogoh

Buat orang awam ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum hari raya nyepi (ngerupukan) yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut Bleganjur, kemudian untuk dibakar.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa. Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah,, Widyadari, bahkan Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan.

Laura Noszlopy meneliti �Pesta Kesenian Bali; budaya, politik, dan kesenian kontemporer Indosnesia� untuk Yayasan Arts of Afrika mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai berikut Ogoh-ogoh adalah patung yang berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan pelekat yang biasanya dibuat oleh kaum remaja Bali sebagai suatu bagian dari perayaan tahunan �upacara pembersihan� (ngerupukan), yang dilaksanakan sehari sebelum perayaan Nyepi, tahun baru Hindu atau hari Nyepi.

Cendekiawan Hindu dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat, kekuatan itu dapat dibagi dua, pertama kekuatan bhuana agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan kedua adalah kekuatan bhuana alit yang berarti kekuatan dalam diri manusia. kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sejak tahun 80 an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang disebut acara ngerupuk. Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minum-minuman keras traditional yang dikenal dengan nama arak. Pada umumnya ogoh-ogoh di arak menuju sutau tempat yang diberi nama sema (tempat persemayaman umat Hindu sebelum dibakar dan pada saat pembakaran mayat) kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dengan diiringi irama gamelan khas Bali yang diberi nama bleganjur patung yang dibuat dengan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngerupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan hari raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara.

Fungsi Ogoh-Ogoh

Fungsi Ogoh-ogoh adalah sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi. Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.
.

Recent Post